The Walking Dead Season 5

click here to download.

Lowongan Kerja

Click here for Information

Ost Naruto

Kumpulan Ost Naruto - Naruto Shippuden.

Info Rombongan Dufan

Dunia Fantasi

Crow Zero 3/Explode

Download Crow Explode / Crow Zero3.

Tampilkan postingan dengan label artikel islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 November 2014

Cara tidur yang baik menurut pandangan islam

kali ini kita akan membahas " tidur yang baik menurut pandangan islam ".


Hadits dari Barra bin ‘Azib ra : Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Jika kalian hendak tidur di pembaringan, berwudhulah seperti wudhu untuk shalat. Kemudian berbaringlah kamu dengan berbaring di lambung kananmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini mengajarkan kepada umat Islam agar berbaring dilambung kanan. Pada saat itu tak ada yang mengetahui apa alasan dibalik sunah tersebut, tetapi kini melalui penelitian yang panjang para ilmuwan berhasil mengungkapkan rahasia di balik anjuran tersebut. Dan berikut ini akan dijelaskan rahasia dari berbagai posisi tidur.

Tidur Dengan Tengkurap
Dr. Zafir al-Attar berkata “Seseorang yang tidur dengan cara tengkurap di atas perutnya setelah suatu periode tertentu akan mengalami kesulitan bernafas karena seluruh berat badannya akan menekan ke arah dada yang menghalangi dada untuk merenggang dan berkonstraksi saat bernafas. Hal ini juga dapat menyebabkan terjadinya kekurangan asupan oksigen yang dapat mempengaruhi kinerja jantung dan otak.”
Peneliti dari Australia telah menyatakan bahwa terjadi peningkatan kematian pada anak-anak sebesar tiga kali lipat saat mereka tidur tengkurap dibandingkan jika mereka tidur dengan posisi menyamping. Sedangkan Majalah “Times” mempublikasikan hasil sebuah penelitian di Inggris yang menunjukan peningkatan tingkat kematian mendadak pada anak-anak yang tidur tengkurap.
Fakta-fakta tersebut sejalan dengan apa yang diajarkan dalam Islam, sebagaimana Abu Hurairah RA meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW bahwa beliau pernah melihat seorang pria yang sedang tidur dengan posisi tengkurap, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang dimurkai oleh Allah dan Rasul-Nya.” (HR Tirimizi dan Ahmad-hasan lighairihi)

Tidur Terlentang
Dr. Zafir al-Attar menjelaskan bahwa saat seseorang tidur dengan cara terlentang, maka hal ini akan menyebabkan orang tersebut bernafas melalui mulutnya. Hal ini disebabkan karena pada saat kita tidur terlentang maka mulut kita akan terbuka, dikarenakan meregangnya rahang bawah.
Manusia harusnya bernafas melalui hidung, bukan mulut. Hal ini dikarenakan pada hidung terdapat bulu-bulu halus dan lendir yang dapat menyaring kotoran yang ikut terhisap bersama udara yang kita hirup. Bernafas melalui mulut merupakan salah satu penyebab seseorang rawan terkena flu. Selain itu bernafas lewat mulut akan menyebabkan keringnya rongga mullut sehingga dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada gusi.

Tidur Dengan Menyamping Ke Kiri
Tidur miring ke kiri ternyata jugalah tidak baik untuk kesehatan, terutama organ jantung. Hal ini dikarenakan saat kita tidur pada posisi ini, maka paru-paru sebelah kanan, yang berukuran besar, akan menekan kearah paru-paru. Hal ini akan berpengaruh kepada kinerja jantung, terutama kepada orang yang berusia lanjut.

Tidur Dengan Menyamping Ke Kanan
Inilah posisi tidur terbaik yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Pada saat kita tidur dalam posisi ini jantung hanya akan terbebani oleh paru-paru kiri yang berukuran kecil. Selain itu tidur dengan cara ini akan menenpatkan hati pada posisi yang stabil. Selain itu posisi ini juga sangat baik bagi pencernaan, penelitian menunjukkan saat kita tidur dengan menyamping ke kanan, makanan akan mampu dicerna oleh usus dalam 2,5 sampai 4,5 jam. Sedangkan dalam posisi tidur yang lain makanan baru akan selesai dicerna setelah 5 sampai 8 jam.

Berikut video tentang adab sebelum tidur, silahkan menyaksikan.


adapun 10 etika tidur yang baik menurut Islam serta hadits-hadits menurut Rasulullah Muhammad saw :

1. Berwudhu ketika akan tidur
“Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan sholat.” (HR. Al-Bukhari No. 247 dan Muslim No. 2710)

2. Membaca doa akan tidur
Rasulullah Muhammad saw jika mau tidur berdoa, “Bismika Allahumma Amut wa Ahyaa” (Dengan nama-Mu ya Allah aku mati dan hidup). Bila bangun tidur berdoa, “Alhamdulillahillaji ahyana ba’da maa ama tanaa wa ilayhinnusur.” (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami mati, dan kepada-Nya kami kembali.” (HR. Muslim)

Al-Bara’ bin ‘Azib ra. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Muhammad saw bila berbaring di tempat tidurnya, beliau letakkan telapak tangannya yang kanan di bawah pipinya yang kanan, seraya berdoa: Robbi qinii ‘adzaabaka yawma tab’atsu ‘ibaadaka (Ya Robbi, peliharalah aku dari azab-Mu pada hari Kau bangkitkan seluruh hamba-Mu).” (HR. At Tarmidzi)

3. Miring ke sebelah kanan
Dari al-Barra` bin Azib, Rasulullah Muhammad saw pernah bersabda, “Apabila kamu hendak tidur,maka berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan“.

4. Meletakkan tangan di bawah pipi sebelah kanan
“Rasulullah Muhammad saw apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud no. 5045, At Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350)

5. Membaca surat surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas
Aisyah ra. berkata: “Bila Rasulullah Muhammad saw berbaring di tempat tidurnya, beliau kumpulkan kedua telapak tangannya, lalu meniup keduanya dan dibaca pada keduanya surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas. Kemudian disapunya seluruh badan yang dapat disapunya dengan kedua tangannya. Beliau mulai dari kepalanya, mukanya dan bagian depan dari badannya. Beliau lakukan hal ini sebanyak tiga kali.” (HR. At Tarmidzi)

6. Tidurlah di awal malam
“Beliau saw tidur di awal malam dan menghidupkan akhir malam.” (Mutafaq ’Alaih)

“Bahwasanya Rasulullah Muhammad saw membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya.” (Hadist Riwayat Al-Bukhari No. 568 dan Muslim No. 647 (235))

7. Tidak tidur dengan posisi telungkup (tengkurap)
“Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang dimurkai Allah Azza Wa Jalla.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shohih)

8. Berdoa ketika bangun tidur
“Rasulullah Muhammad saw jika mau tidur berdoa, “Bismika Allahumma Amut wa Ahyaa” (Dengan nama-Mu ya Allah aku mati dan hidup) Bila bangun tidur berdoa, “Alhamdulillahillaji ahyana ba’da maa ama tanaa wa ilayhinnusur.” (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami mati, dan kepada-Nya kami kembali.” (HR. Muslim)

9. Mengusap Bekas tidur
“Maka bangunlah Rasulullah Muhammad saw dari tidurnya kemudian duduk sambil mengusap wajah dengan tangannya” (HR. Muslim No. 763 (182)

10. Beristinsyaq, beristintsaar dan bersiwak ketika bangun tidur
Beristinsyaq dan beristintsaar adalah menghirup kemudian mengeluarkan atau menyemburkan kembali air dari hidung.

“Apabila Rasulullah Muhammad saw bangun malam membersihkan mulutnya dengan bersiwak.” (HR. Al Bukhari No. 245 dan Muslim No. 255)

Demikianlah Rasulullah Muhammad saw menunaikan hak-hak tidur yang telah diberikan Allah swt kepadanya. Dan sebagai umat Islam yang beriman kepada Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw, maka sudah sepatutnya umat muslim menunaikan nikmat tidur tersebut sebagaimana yang telah dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Selasa, 13 November 2012

(Renungan) Wasiat Rasulullah Untuk Umat Islam


Adalah menarik bagi kita umat Islam untuk kembali merenungkan wasiat Rasulullah saw dalam kesempatan Hajjul Wida kepada umat Islam. Dari apa yang dinasehatkan dan bagaimana faktanya pengamalannya. Dengan membaca kembali wasiat tersebut kita bisa membandingkan sejauh mana wasiat itu dilaksanakan oleh umat Islam dan lebih dari itu, bisa menjadi bahan introspeksi diri kita sendiri dalam hal pengamalannya.


Dalam kesempatan Hajjul Wida, Rasulullah saw yang dihadiri lebih dari 100.000 orang dari berbagai negeri yang jauh pada waktu itu bersabda:

“Ya ummatku, ya ummatku, sebentar lagi saya akan berjumpa dengan Allah, dan kalianpunsuatu saat nanti akan berjumpa dengan Allah. Dan apabila nanti kalian berjumpa dengan Allah maka Allah taala akan bertanya kepada kalian, ‘Hai hamba-Ku, selama kalian hidup di dunia, amal baik apa saja yang kalian lakukan?’

Oleh sebab itu setelah aku meninggalkan dunia yang fana ini, janganlah kalian murtad, janganlah kalian menjadi orang musyrik, janganlah jadi pembangkang, janganlah menjadi perusuh, janganlah menjadi pembuat onar, janganlah menjadi penyebar gosip, isu, ghibat, fitnah. Janganlah menhadi pendusta, janganlah menjadi orang yang selalu menanamkan tali perpecahan, janganlah menjadi orang yang mudah iri hati, karena semua itu perbuatan setan dan hukumnya dosa yang sangat besar.

Jadilah kalian orang yang senantiasa bermanfaat bagi keluarga, bagi masyarakat, jadilah kalioan rahmat bagi yang lain, jadilah kalian juru selamat bagi dunia ini, jadilah kalian wujud yang penuh setia kepada sang Maha Pencipta, Allah Yang Maha Besar, jadilah kalian wujud yang selalu menghormati serta menghargai agama Islam ini, hiduplah dengan merendah diri, beradat lembut, berbudi halus. Kerjakanlah semua itu dengan tulus ikhlas dan dengan penuh ridho semata-mata karena Ilahi.

Hai umatku, apakah amanat Allah taala yang aku terima dan telah kusampaikam semua kepada kalian semuanya telah mengerti?”
Mereka menjawab: “Labbaik”
“Apakah sudah jelas?”
Mereka menjawab, “Labbaik”
“Hai umatku, Allah taala menjadi saksi atas pernyataan ini”.

Amanah diatas sebenarnya tidak terbatas hanya kepada para sahabat awwalin saja, tetapi termasuk juga kita yang menamakan diri sebagai muslim. Dan sudahkah kita mengatakan “labbaik” terhadap amanah diatas?

Garis besar dari amanah diatas adalah penguatan iman, yang dilakukan dengan cara menghindari bentuk-bentuk kejahatan yang bisa menghancurkan masyarakat. Dan melakukan kebaikan yang membawa kemaslahatan umum. Dan semua itu dilakukan dengan penuh setia pada Allah dan keikhlasan semata-mata karena Allah.

Pentingnya Rahmat Ilahi Dalam Mengamalkan Akhlak dan Amanah Rasulullah

Bagaimana cara kita agar bisa menerapkan akhlak Rasulullah dan amanah-amanah beliau? Dari amanah tersebut sebenarnya kita bisa melihat bahwa akhlak hasanah Rasulullah saw baru bisa diamalkan bila kita menarik rahmat ilahi, sebab tanpa karunia-Nya kita yang lemah ini tidak mungkin bisa mengamalkan amanat-amanat beliau saw yang sangat mulia tersebut, sebab amanah-amanah beliau itu bisa menjadi juru selamat bagi diri kita dan keturunan kita. Jadi, hanya dengan rahmat dan karunia dari Allah ta’ala barulah kita bisa mengamalkan akhlak hasanah Rasulullah saw. Dengan demikian yang pertama-tama kita lakukan adalah carilah rahmat Tuhan, lagilah kepada Allah ta’ala siang dan malam dengan sungguh-sungguh agar Tuhan menjadi sahabat kita dan agar Tuhan menjadi milik kita.

Dan membangun akhlak Rasulullah saw harus dimulai dari lingkungan rumah kita sendiri. Sebab kalau bangunan akhlak hasanah Rasulullah saw dalam rumah kita tidak benar maka bagaimana mungkin kita akan merubah dunia? Cahaya yang dimiliki oleh orang-orang yang mengamalkan akhlak Rasulullah saw akan lebih terang, dan cahaya tersebut akan menerangi alam sekitarnya.

SURGA DI DUNIA

Rahasia keterbatasan dan keberlimpahan rezeki adalah sesuatu yang tidak dengan mudah difahami oleh orang-orang. Di satu sisi ada janji Allah Taala di dalam Alquran kepada orang-orang yang beriman bahwa, ”Memadailah Allah bagi dia yang bertawakal kepada Allah”.(Q.S. 65:4) dan, ”Ia yang selalu waspada akan tanggung jawabnya kepada Allah, untuknya Allah akan menyiapkan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dan memberinya rezeki dari mana yang tidak ia duga”(QS.65:3-4). Allah Taala selanjutnya berfirman di dalam Alquran, bahwa, “Di langit ada rezeki bagi kamu dan juga apa yang dijanjikan kepadamu.”(QS.51:23) dan lagi, bersumpah dengan zat-Nya, Allah menyatakan,”Demi Tuhan seluruh langit dan bumi, sesungguhnya Alquran adalah kebenaran sebagaimana halnya kebenaran apa yang engkau ucapkan.”(QS.51:24). Demi Rabb langit dan bumi bahwa janji ini benar adanya, sebagaimana kalian setelah mengatakan sesuatu dengan lidahmu sendiri dan tidak dapat kemudian mengingkarinya, demikian pula Allah Taala telah mengucapkan janji semacam itu. Namun, meskipun telah ada janji-janji ini, nyatanya banyak orang-orang yang saleh dan mutaki serta berpembawaan baik dan mengamalkan Islam dengan sebenar-benarnya namun mereka mengalami keterbatasan dalam rezekinya. Jika ada untuk malam hari, untuk siang tidak ada. Ada untuk siang untuk malam tidak ada.

Ayat Alquran yang lain “wa liman khaafa maqaama rabbihi jannataani”(QS.55:47). Memang nampak pemandangan seperti itu terjadi tetapi pengalaman membuktikan bahwa masalah-masalah ini tidak dapat dinisbahkan kepada Tuhan. Keyakinan kita adalah bahwa janji yang diucapkan oleh Allah bahwa Dia sendiri memberi rezeki kepada orang-orang yang bertakwa adalah benar dan Allah sendiri menganugerahkan rezeki kepada orang-orang yang bertakwa sebagaimana diterangkan di dalam ayat-ayat di atas. Semuanya adalah benar dan jika kita mengamati silsilah para Ahlullah (orang-orang yang dekat dengan Tuhuan), kita akan mengetahui bahwa tidak ada seorang pun dari antara mereka pernah terpaksa mati kelaparan. Wujud-wujud suci yang telah diakui demikian oleh orang-orang beriman yang menjadi saksi tentang ketakwaan mereka. Namun, bukan itu saja, bahwa mereka tidak mati karena kelaparan, mereka tidak menderita dari keperihan karena kekurangan rezeki hingga batas yang mengenaskan, meskipun mereka tidak memiliki standar kesejahteraan yang memadai.

Rasulullah saw telah menetapkan pola hidup miskin, tapi dari kedermawanan beliau dapat difahami bahwa ini adalah kecenderungan hati beliau sendiri bukan suatu bentuk hukuman. Dengan kata lain, di jalan ini terdapat banyak kesulitan yang harus diatasi seseorang. Ada beberapa orang yang nampak bertakwa dan saleh tetapi mereka mengalami  keterbatasan rezeki. Menyaksikan semua ini, sesorang harus mengatakan bahwa janji yang di buat oleh Allah Taala semuanya benar, tetapi elemen kelemahan manusia perlu diberitahukan.

Dalam masalah ruhani tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memahami natijahnya. Beberapa orang pergi ke London  dan menyaksikan terdapat begitu banyak kebebesan di sana. Kebiasaan bermabuk-mabukan sedemikian rupa menyebar luas sehingga toko-toko yang menjual minuman keras membentang sampai tujuh mil. Tidak ada perbedaan berzina dan bukan zina. Apakah ini surga? Surga bukan begitu maksudnya. Perhatikanlah, seorang manusia mempunyai seorang istri dan ia mempunyai hubungan pernikahan dengannya. Burung-burung dan hewan-hewan juga memiliki hubungan seperti itu. Tetapi Allah Taala telah membekali manusia dengan kemampuan untuk meraih kesucian dan kebersihan. Manusia yang memiliki kepekaan dan kekuatan, dengannya ia meraih kenikmatan yang lebih besar dari hubungan pernikahan dengan pasangannya dibandingkan dengan hewan-hewan yang tidak  memiliki indra dan pemahaman serupa itu, dan karena itulah, hewan tidak menaruh penghargaan tertentu kepada pasangan mereka, seperti anjing misalnya.

Jadi jika manusia dengan segala bekal kecakapannya tidak dapat meraih kenikmatan melalui hubungan yang sah malah menjalani kehidupan seperti binatang, maka apalagi bedanya antara mereka dengan binatang? Tuhan yang menyatakan bahwa surga adalah hanya untuk orang-orang yang beriman dan Dia juga menyatakan bahwa kelezatan hakiki dari benda-benda yang memberikan kesenangan di dunia ini hanya dapat dinikmati manakala di dalam diri manusia ada ketakwaan sejati. Ia yang meninggalkan ketakwaan dan melepaskan dirinya dari kaidah halal dan haram, orang semacam itu menjatuhkan derajatnya sendiri dan sama seperti derajat hewan-hewan.

Manakala perbuatan-perbuatan tak senonoh dilakukan secara terbuka seperti binatang dan tidak ada rasa malu dan sikap sopan santun satu sama lain, dan jika seseorang memiliki naluri insaniyat, menyaksikan hal ini ia akan bertaubat ribuan kali dari surga semacam itu dan dari kesenangan serupa itu dan akan memohon kepada Allah agar diselamatkan dari kumpulan orang-orang yang dayus dan rendah semacam itu. Beranggapan bahwa kehidupan kelompok orang-orang semacam itu adalah kehidupan surgawi adalah benar-benar suatu kebodohan yang melampaui batas.

Pada hakikatnya kunci surga adalah takwa. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak bertawakal kepada Allah merasakan kenikmatan sejati? Kadang-kadang disaksikan bahwa orang-orang yang tidak bertawakal kepada Tuhan, uang mereka dicuri, tiba-tiba jadi gagu. Dan orang-orang kafir yang disebut-sebut sebagai penghuni surga mereka nekad melakukan bunuh diri dalam jumlah yang begitu besar dan hal ini mereka lakukan hanya karena persoalan-persoalan yang sepele. Keadaan ini membuktikan betapa lemahnya hati dan tidak adanya kekuatan jiwa mereka, sehingga mereka tidak memiliki kekuatan untuk menanggung kesedihan. Mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk memikul kesedihan dan musibah, tidak memiliki sarana untuk meraih kesenangan sejati. Baik kita dapat memberi pengertian kepada mereka atau tidak, baik mereka dapat memahaminya atau tidak, persoalan yang sebenarnya ialah bahwa kenikmatan yang sejati dari benda-benda yang memberikan kepuasan hanya dapat dinikmati dengan sebenar-benarnya melalui ketakwaan. Orang yang di dalam dirinya ada ketakwaan, hatinya memperoleh ketenangan dan ada kesenangan yang abadi (surur). Lihatlah, jika seseorang memiliki hubungan atau persahabatan dengan orang lain, betapa bahagia dan tentramnya ia. Tetapi ia yang memiliki hubungan dengan Tuhan akan lebih besar kenikmatan yang akan ia rasakan. Ia yang tidak memiliki hubungan dengan Tuhan, bagaimana ia bisa berharap? Sedangkan pengharapan adalah sesuatu yang darinya dimulai penghidupan surgawi.

Begitu banyak terjadi tindakan bunuh diri di negeri-negri yang ‘beradab’ ini yang darinya kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya disana tidak ada ketentraman. Pada saat sedikit saja merasa kecewa mereka memilih bunuh diri. Tetapi sesorang yang memiliki ketakwaan dan memiliki hubungan dengan Tuhan, ia meraih kebahagiaan yang abadi yang dihasilkan oleh keimanan.

Segala sesuatu di dunia ini mengalami perubahan dan pertukaran. Bermacam-macam musibah menimpa seseorang. Penyakit menyerang, kadang-kadang anak seseorang meninggal dunia. Singkatnya, selalu ada semacam kedukaan atau kesukaran. Dunia ini adalah tempat kesusahan dan hal-hal ini menyebabkan seseorang tidak dapat tidur nyenyak. Semakin meluas hubungan seseorang, semakin luas jangkauan kesulitan dan musibah. Sebagaimana lingkaran hubungan menjadi luas, kesulitan dan bala musibah ini membuat satu kesedihan menjadi lima puluh. Jika seseorang hanya seorang diri, ia akan mengalami kesedihan yang lebih sedikit, tetapi, manakala ia memiliki istri, anak-anak, orang tua, saudara-saudara laki-laki dan perempuan, dan keluarga yang lain, maka, jika  ada sedikit kesulitan, hal itu menjadi persoalan baginya. Menimbang keseluruhan hubungan-hubungan ini, seseorang hanya dapat menemukan kebahagiaan sejati jika tidak serorangpun dari lingkaran hubungannya ditimpa sakit atau menghadapi persoalan atau kesulitan.

Anggapan bahwa harta kekayaan membawa kebahagiaan juga tidak benar. Kebahagiaan tidak serta merta datang dengan melimpahnya harta kekayaan. Meskipun ada harta benda, jika kesehatan seseorang tidak baik, atau misalnya, seseorang menderita gangguan perut, apakah akan merasakan kehidupan surgawi? Jadi, dari sini juga difahami bahwa harta kekayaan bukanlah penyebab adanya kebahagiaan. Yang benar adalah sesorang yang memiliki hubungan dengan Tuhan, dialah yang dalam segala seginya, menikmati suatu kehidupan surgawi. Karena Allah Maha Kuasa dan Dia berkuasa untuk menjauhkan seseorang dari segala macam bala musibah dan kesulitan. Demikian juga Dia memiliki kekuatan untuk  melindunginya dari kesulitan akibat adanya persoalan. Bila kesukaran seperti itu harus muncul, maka Tuhan menganugerahkan kemampuan untuk menghadapinya dengan keberanian dan ketabahan.

Dimensi total yang diperlukan bagi kesejahteraan seseorang tidak terletak di tangan raja manapun. Melainkan semuanya ini hanya ada di tangan Dia, Raja Diraja, yang menganugerahkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kadang-kadang disaksikan bahwa ada orang-orang tertentu yang memiliki sejumlah besar harta kekayaan tetapi mereka menjadi korban penyakit paru-paru, dan bagi mereka hidup menjadi lebih pahit. Jadi, siapa yang dapat mengatasi jutaan persoalan yang ada pada diri manusia? Jika ada kesedihan, siapa yang dapat menganugerahkan kesabaran kepada seseorang? Hanya Tuhan yang dapat memberikannya.

Kesabaran adalah sesuatu yang besar yang tidak mengijinkan masuknya penderitaan yang berlebihan meskipun pada saat mengalami kesusahan besar dan musibah. Ada orang yang kaya yang pada  masa senang dan gembira menjadi sangat sombong dan memuji diri sendiri, tetapi sedikit saja datang persoalan mereka merengek-rengek seperti anak kecil. Kita tidak pernah mendengar tentang seseorang yang belum pernah mengalami musibah dan keluarganya tidak pernah menderita kesedihan. Kehidupan surgawi ini siapa yang dapat memilikinya? Hanya seseorang yang hanya atas dirinya Tuhan menganugerahkan. Oleh karena itu merupakan suatu kesalahan besar, melihat seseorang memakai pakaian ‘putih bersih’ dikatakan bahwa orang seperti itu hidup di dalam surga. Jika kalian datangi dan tanyakan kepada orang seperti itu, maka betapa banyak bala musibah yang mereka ceritakan. Hanya dengan melihat pakaian seseorang, atau melihat mereka mengendarai delman atau bermabuk-mabukan dan beranggapan [bahwa mereka bahagia dan hidup di surga] adalah tidak benar. Lain daripada itu, suatu kehidupan yang penuh dengan kebebasan dengan sendirinya adalah kehidupan neraka. Apakah yang melebihi dari hidup di neraka daripada seseorang yang di dalam hidupnya tidak ada penghargaan kepada Tuhan dan tidak ada hubungan dengan Tuhan. Seekor anjing, bebas memakan bangkai atau ia dapat berlaku buruk ia bebas untuk melakukannya), akankah itu menjadi sebuah kehidupan surgawi? Demikian pula, seseorang yang memakan bangkai dan melakukan perbuatan buruk, yang tidak mengenal perbedaan antara harta yang halal dan yang haram, ini adalah kehidupan penuh laknat, apa hubungannya dengan kehidupan surgawi. Adalah benar bahwa kehidupan surgawi yaitu suatu keadaan yang di dalamnya keadaan seseorang terpelihara dari semua penderitaan tetapi hanya untuk orang-orang yang benar-benar bertawakal kepada Tuhan dan dengan demikian sesuai dengan janji yang terkandung di dalam ayat “Dan Dia (Allah) memelihara orang yang saleh”(QS. 7:197).

Mereka berada di dalam perlindungan dan pemeliharaan Tuhan. Di sisi lain, seseorang yang jauh dari Tuhan hari-harinya dilewati dengan rasa takut dan kekhawatiran. Ia tidak dapat menikmati kebahagiaan. Ada seseorang di Sialkot yang biasa menerima suap. Ia biasa berkata bahwa apa yang selalu ia lihat semuanya adalah rantai-rantai. Masalahnya adalah perbuatan buruk berakhir dengan akibat buruk. Karena alasan inilah ruh tidak pernah merasa tentram dengan amal buruk. Jadi, dimana letak kelezatan dalam keburukan? Setiap perbuatan amal buruk berbekas di dalam hati dan seseorang merasakan beban berat atas dirinya dan ia dipaksa untuk bertanya pada dirinya sendiri, ‘betapa ini suatu kebodohan?’ dan akibatnya ia melaknati dirinya sendiri. Mereka juga mengalami akhir yang mengerikan.

Singkatnya, hidup tidak lain adalah untuk memelihara diri seseorang dari perbuatan buruk. Dan bertawakallah kepada Tuhan, sebab ia yang bertawakal kepada Tuhan sebelum musibah menimpanya, Tuhan menolongnya pada saat-saat mengalami musibah. Ia yang tidur sebelumnya, pada saat datang musibah-musibah ia jadi hancur.

Allah Taala Maha Kaya. Manakala tempat-tempat seperti Beecaner menderita kekeringan, orang di sana bertindak sedemikian jauh sampai-sampai memakan anak-anak. Hal-hal ini terjadi karena mereka tidak menjalani hidup mereka untuk siapapun. Seandainya mereka hidup untuk Allah Taala, maka anak-anak tidak harus mengalami nasib seperti itu. Sangat jelas dari Hadis dan Alquran Suci demikian juga dari Kitab-Kitab Suci terdahulu bahwa kadang-kadang amal buruk orang tua membawa malapetaka bagi anak-anaknya. Ayat Alquran, “Dia tidak memperdulikan akibat-akibatnya” (QS. 91:16), merujuk kepada hal ini bahwa mereka yang melewatkan hidup dengan ceroboh, Allah Taala juga menjadi tidak perduli terhadap mereka. Kalian mengetahui, seseorang pembantu yang tidak mengucapkan salam kepada majikannya selama beberapa hari menyebabkan majikannya tidak senang. Jadi mengapa Tuhan harus peduli dengan ia yang memutuskan hubungan dengan-Nya. Tuhan menyatakan bahwa Dia menghancurkan mereka dan tidak perduli terhadap keturunan mereka juga. Dan hal ini dapat difahami bahwa manakala seseorang yang mutaki beramal saleh meninggal dunia Tuhan memelihara anak keturunannya sebagaimana dapat dilihat di dalam ayat Alquran, “Ayah mereka dahulu adalah orang yang saleh.”(QS. 18:83). Karena kebaikan dan kesalehan sang ayah ini, Tuhan menjadikan nabi-nabi besar seperti Nabi Musa dan Nabi Khidir bekerja keras, untuk memperbaiki dinding yang sekarang menjadi milik anak-anaknya. Betapa agungnya derajat yang dimiliki seseorang seperti itu dalam pandangan Allah. Allah Taala tidak menceritakan tentang keadaan anak-anaknya melainkan bersikap sattar (menutupi kelemahan-kelemahan). Karena hal itu akan menodai keagungan orang tua mereka dan juga karena Tuhan menutupi keadaan sesungguhnya anak-anak tersebut demi untuk ayah mereka.

Hal yang sama telah disebutkan di dalam Kitab-Kitab Suci terdahulu di mana Tuhan menyatakan bahwa Dia memelihara sampai tujuh generasi keturunan seseorang yang saleh. Nabi Daud juga telah mengatakan bahwa beliau tidak pernah menyaksikan anak-anak seseorang yang bertakwa mengemis-ngemis minta makanan.

Singkatnya, kenikmatan sejati adalah rezeki dari Allah yang tidak diperoleh oleh mereka yang berada di luar ketaatan kepada-Nya.


Makna Shalat Berjamaah


      

      Di dalam hadits dikatakan bahwa pahala shalat berjamaah adalah 27 kali dibandingkan dengan shalat sendiri. banyak orang Islam berhitung secara kuantitatif seolah-olah dengan melakukan shalat berjamaah maka ia akan menabung pahala sebanyak 27 kali. Demikian juga ketika di dalam hadis dikatakan bahwa shalat di Masjidil Haram akan dilipatgandakan pahalanya sebanyak seratus ribu kali lipat. Luar biasa.

     Saya pribadi memahami masalah ini dari sisi kepemimpinan dan persatuan Islam. Shalat berjamaah berarti berkelompok dengan panduan seorang imam. Apa yang dilakukan imam akan diikuti oleh makmumnya, kecuali imam salah. Semua makmum harus berbaris dengan shaf yang teratur dan lurus. Semua mengikuti arah Imam, betapa kuatnya organisasi ini. Siapa yang dapat mematahkan shaf yang kokoh? Sayang makna dari keuntungan shalat berjamaah luput dimengerti oleh umat islam! Salah satu kunci keberhasilan dakwah di zaman Rasulullah saw adalah persatuan. Salah satu cara menumbuhkan persatuan tersebut adalah dengan shalat berjamaah. Kecintaan mereka, disiplin dan keikhlasan mereka dalam menunaikan shalat berjamaah telah menumbuhkan semangat persatuan dan keberanian yang tinggi diantara mereka. di sisi lain hubungan silaturahmi yang penuh kasih sayang semangat erat terjalin diantara mereka. Sehingga gambaran umat Islam yang bagaikan dua jari dieratkan benar-benar nampak di zaman itu. Dalam hal disiplin dan kecintaan mereka dalam shalat berjamaah kita dapati di dalam salah satu riwayat bahwa seorang sahabat yang sudah uzur dan tuna netra setiap hari beliau shalat berjamaah ke masjid walaupun jaraknya tidak bisa dibilang dekat, diceritakan bahwa sahabat tersebut meminta keringanan Rasulullah saw untuk beliau khusus untuk shalat subuh shalat di rumah saja. Rasulullah saw mengizinkan, tetapi baru beberapa langkah Rasulullah saw meralat bahwa sahabat tersebut tetap menunaikan shalat berjamaah di Masjid. Betapa tingginya semangat dan disiplin yang terbentuk waktu itu. Bisa kita bayangkan seandainya di Masjid Istiqlal, setiap umat Islam yang berada di dalam radius beberapa kilometer dari Masjid - menunaikan ibadah shalat berjamaah di Masjid lima kali sehari - majid tersebut mungkin tidak akan mampu menampung, dan kitapun bisa membayangkan dampak persatuan, kecintaan dan kebaikan akan lebih terbentuk di dalam MAsyarakat. Dan lebih luas lagi musuh-musuh Islam yang melihat tentu akan gentar melihat persatuan Islam yang terbentuk dari hal yang paling mendasar sekali. Contoh dalam hal ini adalah di Perancis, Islam yang dari sisi prosentase sebenarnya masih jauh dibandingkan dengan masyarakat asli yang beragama non Muslim, tetapi Islam yang sedikit tersebut sudah menjadikannya sebagai 'ancaman' bagi eksistensi umat Kristiani disana. Betapa tidak kita menyaksikan bahwa setiap ibada shalat toko-toko disana sampai tutup karena orang-orang Islam yang harus shalat di jalan-jalan dan trotoar, karena tidak tercukupinya Masjid untuk menampung umat Islam yang semakin bertambah. Ketakutan itu seharusnya memang tidak perlu dirisaukan, karena semakin shaleh dan taatnya seseorang pada agama dan bentuk-bentuk peribadatan, tentu hal itu akan membawa seseorang akan semakin saleh secara sosial, karena itu adalah tuntutan pasti dari Islam. Sehingga dampak tersebut akan terasa di kalangan masyarakat Perancis sendiri. Tetapi walau bagaimanapun kita pun mengerti ketakutan mereka jika kita membandingkannya dengan tindakan-tindakan terorisme yang dilakukan oleh 'oknum-oknum' muslim. Jadi Shalat berjamaah adlah hal yang harus selalu kita perhatikan, tidak sekedar kita menganggap untuk kepentingan pribadi kita, tidak sekedar untuk memenuhi masjid tetapi lebih dari itu adalah kita harus menumbuhkan persatuan Islam, persatuan dalam bermasyarakat dan persatuan dalam beragama.

SUMBER

Hadits-hadits tentang kasih Sayang Rasulullah


Abdullah bin Abu Bakar r.a. meriwayatkan dari seseorang katanya: “Pada suatu hari dalam perjalanan untuk berperang di Hunain, saya memakai sepatu kulit yang tebal. Saya berjalan dibelakang Rasulullah s.a.w. Karena jalan sangat sempit tiba-tiba kaki Rasulullah s.a.w. tersandung oleh sepatu saya dan terinjak dari belakang sehingga beliau kesakitan dan beliau segera memukul perlahan saja sambil mendorong saya kebelakang dengan sebuah pecut (cambuk) yang beliau pegang sambil bersabda: “Hai Fulan, engkau telah menyakiti kakiku.” Beliau (Abdullah bin Abu Bakar r.a) mengatakan: “sepanjang malam orang itu tidak bisa tidur karena dia merasa bersalah sudah menyakiti kaki Rasulullah s.a.w, dia berulang-kali berpikir dan menyesali diri sendiri, mengapa saya telah menyakiti Rasulullah s.a.w. Keesokan harinya pagi-pagi sekali seorang datang mencarinya untuk berjumpa Rasulullah s.a.w. Katanya, “saya dengan perasaan gemetar dan takut datang menghadap Rasulullah s.a.w. Beliau bersabda kepada saya” “Hai Fulan! Kemarin engkau telah menginjak kakiku dan engkau telah menyakiti aku. Tapi sebaliknya aku telah memukul sambil mendorong engkau kebelakang dengan cambukku ini supaya kakiku terlepas dari kaki engkau. Aku pukul engkau perlahan sambil mendorong engkau kebelakang dengan cambukku ini, tentu aku telah menyakiti engkau. Oleh karena itu ambillah dari aku 80 (delapan puluh) ekor domba sebagai balasan rasa sakit engkau karena cambukku ini.
Tengoklah bagaimana Rasulullah s.a.w Rahmatul-lil-Alamin telah berlaku terhadap seorang hamba yang lemah itu. Beliau s.a.w sendiri merasakan sakit karena terinjak oleh sepatu sahabat itu, dan untuk melepaskan kaki beliau dari bawah sepatu sahabat yang telah menginjak itu beliau mendorongnya kebelakang dengan cambuk yang beliau pegang. Sepanjang malam beliau s.a.w berpikir mengapa aku telah memukul dan mendorong orang itu kebelakang dengan cambukku ini. Tentu ia merasa sakit oleh cambukku ini, sedangkan beliau sendiri tidak memikirkan kesakitan yang disebabkan terinjak oleh kaki sahabat itu. Bahkan beliau karena merasa malu terhadap sahabat itu dan menyesal atas perlakuan beliau terhadapnya,sepanjang malam beliau s.a.w tidak bisa tidur. Akhirnya dengan rahmat dan kasih sayangnya, beliau s.a.w memberikan 80 ekor domba sebagai ganjaran atas perlakuan beliau s.a.w terhadap sahabat itu.

Kemudian dalam sebuah peristiwa lain lagi, lihatlah bagaimana perlakuan beliau s.a.w terhadap seseorang yang datang dari sebuah kampung yang tidak tahu adab sama sekali, bahkan nampaknya orang itu tidak mau belajar bagaimana berlaku adab terhadap seseorang. Bahkan orang itu sangat bangga atas kebiasaan perlakuan kasarnya. Namun beliau s.a.w telah memperlakukannya dengan ramah-tamah dan lemah lembut terhadapnya. Anas r.a. meriwayatkan, katanya, saya sedang menyertai Rasulullah s.a.w. diwaktu itu Rasulullah s.a.w menutup leher beliau dengan sehelai kain cadar yang pinggirannya tebal sekali. Ketika orang kampung itu datang langsung menarik kain cadar itu dengan kuatnya sehingga meninggalkan bekas goresan pada leher Rasulullah s.a.w. Lalu orang itu berkata: “Hai Muhammad harta apapun yang ada yang telah Allah taala anugerahkan kepada engkau letakanlah diatas kedua untaku ini. Karena engkau tidak akan memberi kepadaku dari harta engkau sendiri ataupun dari harta orang tua engkau. Mendengar kata-katanya itu mula-mula Rasulullah s.a.w diam saja tidak menjawabnya. Kemudian beliau s.a.w bersabda :

"Harta itu memang kepunyaan Allah taala Aku hanyalah seorang hamba-Nya. Setelah itu beliau bersabda: “ Engkau telah menyakiti aku. Engkau harus memberi pembalasan sebagai ganjaran kepadaku.”Orang kampung itu menjawab: “Tidak, aku tidak akan memberi apa-apa “Beliau bersabda: “Mengapa tidak? Mengapa kamu tidak mau memberi?” Dia menjawab: Aku tahu engkau tidak akan membalas keburukan dengan keburukan”. Mendengar jawabannya itu Nabi s.a.w tersenyum, dan beliau s.a.w faham maksud perkataan orang itu. Lalu beliau menyuruh sahabat beliau untuk meletakkan buah-buah kurma dan gandum (bahan makanan) diatas punggung kedua unta orang kampung itu.

Sebenarnya orang kampung itu bukanlah orang dungu. Dia tahu betul bagaimana kepribadian Rasulullah s.a.w yang dari ujung rambut sampai ujung kaki beliau merupakan wujud rahmat, beliau pema’af, belas kasih dan penyayang bagi makhluk Tuhan. Dia yakin apapun yang akan dia minta pasti akan dikabulkan oleh Rasulullah s.a.w.

Sumber

Sabtu, 07 Juli 2012

Riset Al Quran & Arkeologi: KEBENARAN ADANYA BANJIR NABI NUH AS

Bukanlah suatu hal yang kebetulan bila masa sekarang ini kita sedang mengungkap jejak-jejak dari mayoritas komunitas manusia yang oleh al-Qur'an dikatakan telah dibinasakan. Bukti-bukti arkeologis menyajikan fakta, bahwa semakin mendadak kehancuran sebuah komunitas terjadi, semakin memungkinkan bagi kita untuk melacak jejak-jejaknya.

Dalam kasus apabila sebuah peradaban hancur secara tiba-tiba, yang ini bisa saja terjadi karena bencana alam, perpindahan tempat (migrasi) yang mendadak, atau karena perang, jejak-jejak peradaban sering bisa lebih terpelihara. Rumah-rumah yang mereka huni, peralatan-peralatan yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari, tidak lama kemudian akan terkubur di bawah bumi. Jadi, jejak-jejak peninggalan mereka itu bisa terpelihara dalam waktu yang lama dan tidak tersentuh oleh manusia, dan itu semua merupakan bukti yang penting tentang sejarah masa lampau bila diungkapkan pada saat sekarang.



Inilah masalah besar sehubungan dengan bukti tentang Banjir masa Nabi Nuh yang telah diungkap pada saat ini. Walaupun peristiwa penghancuran kaum Bani Nuh itu telah terjadi sekitar millenium ketiga sebelum Masehi (SM), banjir itu telah mengakhiri seluruh peradaban untuk jangka waktu tertentu, dan kemudian, menyebabkan lahirnya lagi sebuah peradaban yang baru di daerah tersebut. Jadi, bukti-bukti yang muncul tentang banjir ini telah terpelihara selama ribuan tahun agar kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Usaha-usaha penggalian telah dilakukan dalam rangka menginvestigasi peristiwa banjir yang telah menenggelamkan daratan-daratan di wilayah Mesopotamia. Dalam penggalian-penggalian yang dilakukan di wilayah tersebut, di empat kota utama ditemukan jejak-jejak yang menunjukkan bahwa telah terjadi sebuah banjir yang besar. Kota-kota tersebut adalah kota-kota penting di Mesopotamia; Ur, Erech, Kish, dan Shuruppak.

Penggalian-penggalian yang dilakukan di kota-kota ini telah mengungkap bahwa semua dari empat kota ini telah dilanda sebuah banjir pada sekitar millenium ketiga Sebelum Masehi.

Pertama, mari kita lihat penggalian-penggalian yang dilakukan di Kota Ur.

Sisa-sisa tertua dari sebuah peradaban yang tersingkap dari penggalian di kota Ur, yang telah diganti namanya menjadi "Tell al Muqayyar" pada masa sekarang ini, menunjuk pada suatu masa 7000 tahun SM. Sebagai sebuah situs yang pernah menjadi lokasi bagi peradaban-peradaban tertua, kota Ur telah menjadi sebuah wilayah hunian di mana berbagai kebudayaan tampil silih berganti.

Temuan arkeologis dari kota Ur memperlihatkan bahwa di sinilah peradaban telah pernah terputus setelah terjadinya sebuah banjir dahsyat, dan kemudian, peradaban-peradaban baru tampil. R.H. Hall dari British Museum melakukan penggalian yang pertama di tempat ini. Leonard Woolley yang melakukan penggalian meneruskan setelah Hall, yang juga menjadi supervisor (pengawas/pembimbing) penggalian yang secara kolektif diorganisir oleh the British Museum dan University of Pensilvania. Penggalian-penggalian yang dilakukan oleh Woolley, yang telah memberikan pengaruh besar di seluruh dunia, berlangsung dari 1922 sampai 1934.

Penggalian yang dilakukan Sir Woolley mengambil lokasi di tengah-tengah padang pasir antara Baghdad dan Teluk Persi. Pendiri pertama kota Ur adalah orang-orang yang datang dari Mesopotamia Utara dan mereka menyebut diri mereka dengan "Ubaidian". Pada awalnya, penggalian itu dilakukan untuk menghimpun informasi berkenaan dengan orang-orang tersebut. Penggalian yang dilakukan Woolley digambarkan oleh seorang arkeolog Jerman, Werner Keller, sebagai berikut:

SELENGKAPNYA BACA DI : http://zilzaal.blogspot.com/2012/07/riset-al-quran-arkeologi-kebenaran.html

Apakah anda tahu apa yang ada dalam foto ini?

Sesungguhnya itu adalah bendera pasukan Islam di Andalusia pada hari pertempuran hukuman..!!
Yang mana kaum muslimin mengalami kekalahan dan kaum salibis mendapatkan bendera itu sebagai ghanimah..!
Dan mereka masih terus memeliharanya sampai hari ini..!
Sejak saat itu mereka selalu merayakan peringatan kemenangan mereka karena hal itu merupakan permulaan hilangnya Andalusia..!!
Dalam foto terlihat prajurit-parajurit dan perwira-perwira militer Spanyol berjalan kaki di jalan-jalan sambil mengangkat bendera kaum muslimin dalam mengenang hari pertempuran..!!

Jika kita kaum muslimin telah melupakannya..maka orang-orang Spanyol justru selalu mengenangnya..!!
Mereka merayakan kekalahan kita, sedang kita justru merayakan kemenangan mereka dalam turnamen piala euro..!!
Bila kita tidak mau mempelajari sejarah kita sendiri maka kita memang layak mendapatkan kehinaan dan pelecehan..!!

sumber ; http://zilzaal.blogspot.com/2012/07/apakah-anda-tahu-apa-yang-ada-dalam.html

9 Watak Jelek Orang Yahudi

Berikut beberapa watak Yahudi yang sudah semestinya diketahui seorang muslim sehingga bisa diketahui siapakah mereka sebenarnya.

1. Watak Yahudi Pertama: Mereka tidaklah pernah ridho dengan kita umat Islam sampai kita mau melepaskan agama kita.
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut.
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (QS. Al Baqarah: 120)
Perhatikanlah saudaraku. Janganlah engkau terpengaruh dengan kaum sekuler yang keliru dalam memahami ayat ini. Kaum sekuler berpendapat bahwa ayat ini ditujukan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja ketika beliau masih hidup. Yahudi dan Nashrani pada zaman ini berbeda dengan yang dulu. Benarkah demikian?

Ini sungguh kekeliruan yang sangat besar yang berasal dari orang yang ingin mengaburkan ajaran Islam. Ketahuilah bahwa ayat ini memang ditujukan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi pembicaraan ini juga mencakup umatnya karena yang menjadi hukum adalah keumuman dan bukan hanya orang yang diajak bicara. Itulah yang dipahami oleh ulama Ahlus Sunnah (semacam Syaikh As Sa’di dalam tafsirnya), berbeda dengan mereka yang sudah diracuni dengan pemikiran orang barat yang kafir.
Berdasarkan ayat di atas sangat jelas sekali bahwa Yahudi dan Nashrani tidak akan ridho kepada kita selamanya. Inilah watak orang Yahudi dan Nashrani sampai hari kiamat. Dari watak jelek mereka yang pertama ini, sekarang kita akan melihat watak mereka yang lainnya.

2. Watak Yahudi Kedua: Orang Yahudi selalu menyembunyikan kebenaran
Mereka kaum Yahudi sebenarnya tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sebagai penutup para rasul di akhir zaman ini, tetapi mereka selalu menyembunyikan kebenaran ini. Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 146)
Al Qurtubhi mengatakan: Diriwayatkan bahwasanya Umar berkata pada Abdullah bin Salam, “Apakah engkau (sebelum masuk Islam) mengenal Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana engkau mengenal anak-anakmu sendiri? Abdullah pun menjawab, “Ya, bahkan lebih dari itu. ”
Ibnu Katsir mengatakan bahwa kadang pula maksud ‘seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri’ adalah mereka mengenal sekumpulan anak-anak manusia lalu mereka tidak merasa ragu sedikit pun untuk mengenal anak mereka sendiri jika mereka melihatnya di antara sekumpulan anak tadi.
Walaupun mereka sudah mengenal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat yakinnya, namun Allah katakana, “sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran”. Maksudnya adalah mereka menyembunyikan sifat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada pada kitab mereka pada manusia padahal mereka mengetahuinya. (Lihat Tafsir Al Qur’anil Azhim, pada tafsir surat Al Baqarah ayat 146).

3. Watak Yahudi Ketiga: Tokoh agama Yahudi sangat sulit menerima kebenaran Islam
Dalam shohih Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ تَابَعَنِى عَشْرَةٌ مِنَ الْيَهُودِ لَمْ يَبْقَ عَلَى ظَهْرِهَا يَهُودِىٌّ إِلاَّ أَسْلَمَ
“Seandainya sepuluh (pemuka agama) Yahudi mengikuti agamaku, maka sungguh tidak akan tersisa lagi orang Yahudi di muka bumi ini kecuali dalam keadaan Islam.” (HR. Muslim no. 2793)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ آمَنَ بِى عَشْرَةٌ مِنْ أَحْبَارِ الْيَهُودِ لآمَنَ بِى كُلُّ يَهُودِىٍّ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ
“Seandainya sepuluh pemuka agama Yahudi beriman kepadaku, sungguh semua orang Yahudi di muka bumi ini akan turut beriman padaku.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi, yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya)

4. Watak Yahudi Keempat: Orang Yahudi menyembah pemuka agamanya sendiri
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini...selengkapnya baca di : http://zilzaal.blogspot.com/2012/07/9-watak-jelek-orang-yahudi.html

Minggu, 24 Juni 2012

Ingin Anak Punya Jiwa Pemimpin? Ini Caranya


Suatu hari buah hati yang kita cintai akan menjalani kehidupannya sendiri. Butuh jiwa pemimpin untuk menghadapi tantangan jaman yang tiap hari semakin berat. Orang tua yang selama ini membantu mereka, mau tidak mau harus merelakan anak menjadi mandiri. Oleh karena itu, pembentukan karakter yang baik harus ditanamkan sejak dini.

Orangtua biasanya menginginkan punya anak yang mandiri dan punya jiwa kepemimpinan demi masa depan sang buah hati. Namun, untuk mencapai ini tentu saja tak 

Stephen R Covey mengenalkan kebiasaan yang bisa membantu menumbuhkan jiwa kepemimpinan anak. Metode itu kemudian diadaptasi menjadi metode ‘The Leader in Me’ yang diterapkan di banyak sekolah di seluruh dunia. ‘The Leader in Me’ bertujuan untuk menggali potensi murid dengan sebaik-baiknya. “Sistem ini memberikan pondasi bagaimana berprilaku yang baik dan benar pada setiap anak” ujar Executive Director PSKD Mandiri, Tya Adhitama.

Tya mengatakan, proses pembentukan jiwa pemimpin harus dilakukan pada semua aspek kehidupan anak. Selain guru di sekolah, orangtua juga dituntut aktif menjaga agar proses ini berjalan maksimal. Alangkah merepotkan jika pondasi kuat yang susah payah dibangun di sekolah, kemudian hilang begitu si anak menginjak rumah.

Misalnya, salah satu kebiasaan yang harus dilakukan yaitu bersikap proaktif. Sikap proaktif berarti sang anak tidak boleh sekadar menerima perintah dari sekeliling.  Anak harus juga mempunyai niat kuat utuk mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab.

Selalu menyadari bahwa segala sesuatunya harus berakhir bisa memberikan dampak yang bagus Kadang, rasa terlalu bersemangat membuat proses justru berjalan lambat. Batasan tertentu akan baik untuk menjaga fokus anak.

Anak juga harus dibiasakan membuat prioritas. Pada usia sekolah, ada banyak sekali kegiatan menyenangkan yang bisa dikerjakan selain belajar. Prioritas diperlukan agar semua tugas dikerjakan secara maksimal dan selesai pada waktunya. Setelah itu, anak bisa mengerjakan pekerjaan lain sesuka hatinya.

Selanjutnya, berikan kesempatan kepada anak untuk memikirkan solusi terbaik untuk semua pihak. Lakukan negosiasi, diskusi dan musyawarah terbuka. Penting bagi para orang tua untuk mendengarkan pendapat anak dan mempertimbangkan sudut pandang mereka. Proses ini juga akan membentuk pemahaman yang baik tentang pentingnya kebebasan berbicara. Hasilnya, anak akan menjadi pribadi yang terbuka dan mampu mengemukakan pendapatnya secara cerdas.

Langkah selanjutnya adalah megajarkan anak untuk lebih banyak mendengar. Contohnya, biasakan untuk membiarkan anak bereksplorasi dengan caranya sendiri dahulu. Koreksi yang tergesa-gesa akan menimbulkan rasa enggan dalam diri anak. Sebaliknya, waktu yang tepat akan menumbuhkan toleransi yang besar dan pemahaman bahwa mereka dimengerti. 

Jiwa pemimpin juga bisa tumbuh berkembang jika anak berada di lingkungan yang positif. Harus ditanamkan pemahaman bahwa semua orang mempunyai peran penting masing-masing untuk mencapai tujuan tertentu. Anak harus belajar bekerjasama dengan banyak orang untuk bekalnya bersosialisasi. Terakhir adalah gaya hidup yang baik. Kebiasaan-kebiasan kecil tersebut harus dilakukan berkepanjangan agar berjalan efektif.

Proses ini akan mudah diadaptasi anak ketika mengenalnya dalam usia dini. Namun, jika baru mengenalnya di usia remaja, tantangannya tentu berbeda. Anak kecil mudah menyerap hal-hal baru karena belum banyak pengalaman hidup yang mempengaruhi cara berpikir dan berprilaku. Mereka masih mudah diarahkan oleh orang-orang yang mereka patuhi.

Remaja sudah memiliki beberapa pengalaman hidup, meskipun belum matang. Jiwa remaja penuh dengan semangat eksplorasi, bahkan terkadang memberontak pada sistem. “Remaja akan kritis terhadap segala perubahan, oleh karena itu diperlukan kontinuitas,” ujar Adinugroho Horstman, konsultan pendidikan.

Doa`a untuk ujian


Pertama Watch This Video Inspiring!


Berikut adalah Do'a bagi mereka melakukan Ujian »


اللهم لا سهل إلا ما جعلته سهلا و أنت تجعل الحزن إذا شئت سهلا
Allahumma la Sahla illa ma ja'altahu Sahla, wa 'anta taj-alul hazna idha shi'ta Sahla
Artinya: " ! Ya Allah Tidak ada yang mudah kecuali apa yang membuat Anda mudah, dan Anda membuat mudah sulit jika itu kehendak Anda . "
Allahumma inii as'aluka fahmal-nabiyyen wa hifthal Mursaleen al-muqarrabeen. Ya Allah! Saya meminta Anda untuk memahami para nabi dan memori para utusan, dan orang-orang terdekat Anda.
Allahumma ijal leesanee 'amiran bi thikrika wa bi qalbi khashyatika. Ya Allah! Membuat lidah saya penuh dengan ingatan Anda, dan hati saya dengan kesadaran Anda.

Innaka 'ala-ma tasha'-u wa anta Qadeer hasbun-allahu wa na'mal Wakeel. (Ya Allah!) Anda melakukan apa pun yang Anda inginkan, dan Anda saya Availer dan Pelindung dan yang terbaik dari bantuan.


Dua Setelah Belajar:

Allahhumma inni astaodeeuka ma qara'tu wama hafaz-tu. Faradduhu 'Allaya inda hagati elayhi.Innaka' ala ma-tasha'-u wa anta Qadeer hasbeeya wa na'mal Wakeel.
Ya Allah! Saya mempercayakan Anda dengan apa yang saya baca dan saya pelajari. (Ya Allah!) Bawa kembali ke saya ketika saya membutuhkan itu.
(Ya Allah!) Anda melakukan apa pun yang Anda inginkan, dan Anda saya Availer dan Pelindung dan yang terbaik dari bantuan.

Dua Sementara Mempelajari Sesuatu Sulit:

Allahumma la Sahla illama ja-'altahu Sahla wa anta taj' alu al hazana Etha shi'ta Sahla.
Ya Allah! Tidak ada yang mudah kecuali apa yang Anda telah dibuat mudah. Jika Anda ingin, Anda dapat membuat mudah sulit.
Ada hadits yang menunjukkan bahwa ini adalah untuk dikatakan pada saat-saat kesukaran dan kesulitan. Semua itu termasuk ujian dan kesulitan lainnya.
1 - Diriwayatkan bahwa Anas ibn Malik (semoga Allah senang dengan dia) berkata: Rasulullah Shallallahu '(damai dan berkat Allah besertanya) berkata: "Barangsiapa yang mengatakan - ketika meninggalkan rumahnya - Bismillah, tawakkaltu 'ala Allah , laa hawla wa laa quwwata illa Billaah (Dalam nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan apapun kecuali dengan Allah), maka akan dikatakan kepadanya: Anda dijaga dan Anda dilindungi , dan setan akan menjauhkan diri dari dia. "
2 - Hal itu juga diriwayatkan bahwa Anas bin Malik, (semoga Allah senang dengan dia) berkata: Jika sesuatu membuatnya kesal, Nabi (damai dan berkah Allah atasnya) akan berkata: " Yaa Hayyu yaa Qayyoom bi rahmatika astagheeth (O Pernah Hidup, ya Pemelihara, dengan rahmat Anda Saya mencari bantuan). "
3 - Hal itu juga diriwayatkan dari Anas (semoga Allah senang dengan dia) bahwa Nabi (damai dan berkat Allah besertanya) berkata:  "Ya Allah, tidak ada yang mudah tapi itu yang membuat Anda mudah dan Anda dapat membuat kesulitan mudah jika Anda akan. "
4 - Diriwayatkan bahwa Sa'ad bin Abi Waqqaas (semoga Allah senang dengan dia) berkata: Nabi (damai dan berkat Allah besertanya) berkata:  "Doa Dhu'l-Nun ketika dia berada di perut ikan: 'Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu min al-zaalimeen (Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya Aku adalah salah satu pelaku kesalahan). " Seorang Muslim tidak pernah menyerukan kepada Tuhannya dengan kata-kata mengenai hal apapun, tetapi doanya dijawab. "





Referensi untuk di atas:
[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud, 5095; al-Tirmidzi, 3426; dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.
[2] Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, 3524; digolongkan sebagai hasan oleh Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, 3182.
[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, 3/255;. dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, 2886
[4] Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, 3505; oleh dishahihkan al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, 1644.

Kamis, 21 Juni 2012

Tentang Syekh Hisyam Kabbani Muhammad

Shaykh Muhammad Hisham Kabbani is a scholar and Sufi shaykh from the Middle East. He graduated from the American University of Beirut in Chemistry. From there he went to Belgium, to continue his Medical Degree in Louvain. Then he received his Islamic Law Degree from Damascus. From his childhood, he accompanied Shaykh 'Abdullah ad-Daghestani and Shaykh Muhammad Nazim al-Haqqani , the grandshaikhs of the Most Distinguished Naqshbandi Order in this time. He traveled extensively throughout the Middle East, Europe, and the Far East in the company of his shaykh. In 1991 he moved to America and there established the foundation of the Naqshbandi-Haqqani Sufi Order of America.
Since that time, he has opened thirteen Sufi centers in Canada and the United States. He has lectured in many universities, including Oxford, the University of California at Berkeley, the University of Chicago, Columbia University, Howard, McGill, Concordia, Dawson College, as well as in many spiritual and religious centers throughout North America, Europe, the Far East and the Middle East.
Shaykh Hisham Kabbani's work wherever he goes is to spread the Sufi teachings of the brotherhood of mankind and the Unity of belief in God that is present in all religions and spiritual paths. His efforts are directed at bringing the diverse spectrum of religions and spiritual paths into harmony and concord, in recognition of mankind's responsibility as caretaker of this fragile planet and of one another.
Shaykh Hisham, as a Sufi shaykh, has been given the authority and permission to guide his followers to the Love of God and to the stations to which they have been destined by their Creator. His arduous spiritual training of 40 years at the hands of his grandshaykh and his shaykh, has endowed him with the sublime qualities of wisdom, light, intellect, and compassion necessary for a true Master on the Path.
Shaykh Hisham's outreach mission in the Americas is his unique contribution to the Endeavor of Humankind in reaching for its highest destiny--nearness to God. His endeavors to bring unity of hearts in their movement towards the Divine Essence is what may be his greatest legacy to the West.